Sunday, 25 July 2010

PESAN-PESAN BUAT KELUARGA & SESAMA









NASEHAT UNTUK ANAK CUCU
Ditulis saat berada di Darmstadt. Jerman

Nasehat ini merupakan hasil renungan di saat Ayah dan Ibu , Yang Kung dan Yang Tinuk berada di sebuah kota kecil di Jerman yaitu Darmstadt. Alhamdulillah, Ayah dan Ibu/Yang Kung dan Yang Tinuk, termasuk mungkin sebagian kecil orang Indonesia yang telah dapat melihat dan berjalan-jalan di luar Indonesia, melihat keberadaan bangsa-bangsa lain. Dari penglihatan seperti ini, lahirlah renungan yang mungkin tidak saja bermanfaat bagi anak dan cucu, tetapi juga bagi anak-anak Indonesia pada umumnya:

1. Setiap kali ke luar negeri, selalu ada perasaan was-was terhadap apa-apa yang akan dihadapi anak-anak Indonesia di masa depan.
Rasanya anak-anak Indonesia kurang memperoleh kesempatan sebagaimana dinikmati anak-anak di Negara yang lebih maju, khususnya di dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu kepada anak dan cucu dan anak-anak Indonesia pada umumnya yang memiliki peluang untuk menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi, hendaklah memanfaatkan peluang itu dengan sebaik-baiknya.

2. Meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi sangat luas, ada ilmu pengetahuan dan teknologi dasar yang harus dikuasai oleh anak dan cucu serta anak-anak Indonesia pada umumnya yaitu keterampilan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi khususnya penguasaan pada teknologi informasi (komputer, dll), penguasaan bahasa asing serta penguasaan hubungan antar manusia. Dengan landasan pengetahuan dasar inilah, Insya Allah penguasaan Iptek yang lebih tinggi, penguasaan iptek lain akan terbuka lebih lebar/luas wawasan kita.
3. Perkembangan dunia kita, dengan perkembangan iptek yang semakin luas, akan menempatkan semua orang pada posisi yang seharusnya mampu bersaing, mandiri, ulet dan tidak mudah putus asa. Untuk itulah anak-anak, cucu-cucu perlu melatih semangat seperti itu.

4. Ajaran Islam mengatakan bahwa mencari ilmu itu adalah wajib, sebagaimana Al-Qur’an yang berbunyi:

“Allah meninggikan kedudukan mereka yang beriman dari antaramu dan mereka yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “ (S. Al – Mujadalah ayat 11).
Hadits Nabi mengatakan: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat” Artinya: Belajarlah sepanjang hayat.
Hadits lain mengatakan: “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina.” Ajaran Islam juga mengatakan bahwa salah satu amal jariyah adalah ilmu yang diajarkan kepada orang lain.

Karena itu anak-anak dan cucu-cucu, selain harus gigih mengejar ilmu, juga harus bersedia mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Hal ini dapat ditempuh dengan cara memiliki kemampuan menulis dan berbicara sehingga merupakan sarana untuk menyebarkan ilmu itu.

Di dalam perjalanan hidup, ada suatu hal yang sangat penting, yaitu “kepercayaan”. Kepercayaan masyarakat terhadap kita akan menempatkan diri kita pada tempat yang selalu mengharapkan kehadiran kita. Untuk itu hendaklah kita selalu berusaha memegang amanah terhadap tugas yang dipercayakan kepada kita (jujur, teliti, tekun) di dalam melaksanakan amanah itu.

5. Di dalam menjalani perjalanan hidup itu, hendaklah kita selalu berusaha mengamalkan nilai-nilai agama, nilai-nilai adat istiadat serta nasehat orang-orang tua dan orang-orang yang bijak lainnya. Selalu rendah hati, tidak sombong, dan selalu menyenangkan dan memudahkan serta menolong orang lain.
6. Berusaha selalu mentaati waktu-waktu sholat dan amanah.
7. Bersilaturrahim adalah memanjangkan usia, dan menjadi kekasih Allah SWT. Kelak. Mudah-mudahan dengan cara itulah anak cucu Yang Kung dan Yang Tinuk akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

8. Menghormati dan memuji serta menghargai orang lain, terutama kepada saudara kandung atau yang dituakan: Pepatah Jawa mengatakan: “DULUR TUWO OLO-OLO NING MALATI.” Artinya: jangan menyepelekan, walau jelek ibaratnya tetap malati.” Jadi akan kuwalat (Allah akan marah), apabila tidak menghargai dan menghormati saudara yang lebih tua. Lebih-lebih kepada orang tua, mencibir, membentak, sekedar “ah” itupun dilarang oleh Allah SWT. Apabila orang tua merasa sedih dan sakit hati akibat kata-kata dan perbuatan anaknya, do’a orang tua itu tidak akan sampai kehadapan Allah SWT. Demikian juga do’a dari saudara kandungnya sendiri. Maka anak cucuku, kita wajib menjaga dan menghindari hal-hal yang membuat sedih orang tua. membuat luka hati atau hal-hal yang membuat sedih orang tua. Sebaliknya kita harus berusaha menyenangkan hatinya, mensejahterakan, membahagiakannya, agar orang tua kita selalu lapang dadanya, dan mengalirkan do’a-do’anya untuk anak cucu-cucu, sebab do’a orang tualah yang amat mujarab.
menyenangkan Allah, sebaliknya apabila ananda membuat marah orang tua, sama dengan membuat amarah Allah.
Meskipun tentu manusia tidak ada yang sempurna, orang tuapun tidaklah selalu benar, namun walau bagaimana luka atau kecewanya anak-anakku terhadap kesalahan orang tua, tetap Allah perintahkan tidak membalas keras atau membentaknya. Lebih baik diam dan istighfar agar tidak terlontar kata-kata kasar yang akan menambah luka hati orang tua. Diam itu adalah emas, penuh memaklumi akan kesalahan orang tua, agar do’a orang tua untuk anaknya makbul, buatlah hatinya ridha/tidak terhalang oleh ganjalan-ganjalan terluka hatinya.

Nasehat ini sangat penting anak-anakku diteruskan kepada anak-anakmu juga agar anak-anakmu selalu berbuat baik kepadamu. Insya Allah.
Disetiap kamar anak-anak, buatlah ketikan di meja belajar do’a sebagai berikut:
“ Bukakan pintu rahmat-Mu ya Allah,
Allah Maha Kaya dan Maha Memelihara,
Peliharakan kami dari hal-hal yang
tidak Engkau ridhoi.

Ya Allah ya Tuhan kami, mudahkan kami dalam menunaikan tugas sehari-hari ke jalan yang lurus, jujur dan terhormat.
Ya Allah aku selalu mengingat-Mu,
Dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Hamba-Mu bersyukur dihidupkan di dunia ini.
Untuk mencari ilmu, mencari rezki, beribadah menyembah-Mu.
Berbuat kebaikan dimuka bumi ini
Fastabiqul khoiroot,berlomba berbuat kebajikan

Berbakti kepada kedua orang tuaku.
Aku berusaha mendahulukan sholat tepat waktu baru melakukan kegiatan lagi.
Sebab aku harus mendahulukan kepada siapa yang Menghidupkan aku.”

Ditulis di Jerman tgl. 30 April 1998
Oleh Ibunda Nunuk M. Sulastomo.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment